1. Teori -Teori Belajar (Piaget,
Bruner, Vygotsky)
Pada prinsipnya proses
belajar yang dialami manusia berlangsung sepanjang hayat, artinya belajar
adalah proses yang terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan terbatas pada
dinding kelas. Hal ini didasari pada asumsi bahwa di sepanjang
kehidupannya, manusia akan selalu dihadapkan pada masalah-masalah,
rintangan-rintangan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan
ini. Prinsip belajar sepanjang hayat ini sejalan dengan empat pilar pendidikan universal
seperti yang dirumuskan UNESCO, yaitu: (1) learning to know, yang
berarti jugalearning to learn; (2) learning to do; (3) learning
to be, dan (4) learning to live together.
Learning to know atau learning to learn mengandung
pengertian bahwa belajar itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada
produk atau hasil belajar, akan tetapi juga harus berorientasi kepada proses
belajar. Dengan proses belajar, siswa bukan hanya sadar akan apa yang harus
dipelajari, akan tetapi juga memiliki kesadaran dan kemampuan bagaimana cara
mempelajari yang harus dipelajari itu.
Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar itu
bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan,
tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang
sangat diperlukan dalam era persaingan global.
Learning to be mengandung pengertian bahwa belajar
adalah membentuk manusia yang “menjadi dirinya sendiri”. Dengan kata lain,
belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan
kepribadian yang memiliki tanggung jawab sebagai manusia.
Learning to live
together adalah belajar
untuk bekerjasama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan tuntunan kebutuhan
dalam masyarakat global dimana manusia baik secara individual maupun secara
kelompok tak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama
kelompoknya.
Proses pembelajaran
yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus
memperhatikan teori-teori yang melandasinya. Ada beberapa teori belajar yang
mendukung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri diantaranya:
1.
Teori Piaget
Menurut Piaget
perkembangan kognitif pada anak secara garis besar terbagi empat periode yaitu:
a) periode sensori motor ( 0 – 2 tahun); b) periode praoperasional (2-7 tahun);
c)periode operasional konkrit (7-11 tahun); d) periode operasi formal (11-15)
tahun. Sedangkan konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual
menurut Piaget yaitu: skemata (dipandang sebagai sekumpulan konsep); asimilasi
(peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang telah dimiliki
seseorang; akomodasi (terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang
semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi
lama); dan equilibrium (bila keseimbangan tercapai maka siswa mengenal
informasi baru).
1.
Teori Bruner
Teori belajar Bruner
hampir serupa dengan teori Piaget, Bruner mengemukakan bahwa perkembangan
intelektual anak mengikuti tiga tahap representasi yang berurutan, yaitu: a)
enaktif, segala perhatian anak tergantung pada responnya; b) ikonik, pola
berpikir anak tergantung pada organisasi sensoriknya dan c) simbolik, anak
telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal sehingga anak telah
mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.
Implikasi teori Bruner
dalam proses pembelajaran adalah menghadapkan anak pada suatu situasi yang
membingungkan atau suatu masalah.Dengan pengalamannya anak akan mencoba
menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam
rangka untuk mencapai keseimbangan di dalam benaknya.
1.
Teori Vygotsky
Teori Vygotsky
beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar
menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada
dalam jangkauan kemampuannya (zone of proximal development), yaitu
perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya.
Vygotsky juga menjelaskan bahwa proses belajar terjadi pada dua tahap: tahap
pertama terjadi pada saat berkolaborasi dengan orang lain, dan tahap berikutnya
dilakukan secara individual yang di dalamnya terjadi proses internalisasi.
Selama proses interaksi terjadi, baik antara guru-siswa maupun antar siswa,
kemampuan seperti saling menghargai, menguji kebenaran pernyataan pihak lain,
bernegosiasi, dan saling mengadopsi pendapat dapat berkembang.
Teori belajar atau teori perkembangan mental Piaget biasa juga
disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori
belajar yang dikemukakan oleh Piaget tersebut berkenaan dengan kesiapan anak
untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir
hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual tersebut dilengkapi dengan
ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi pengetahuan. Misalnya pada tahap
sensori motor anak berpikir melalui gerak atau perbuatan (Ruseffendi, 1988). Dalam
kaitannya dengan teori belajar konstruktivisme, Piaget yang dikenal sebagai
konstruktivis pertama (Dahar, 1989) menegaskan bahwa pengetahuan dibangun dalam
pikiran anak. Selanjutnya, timbul pertanyaan bagaimanakah cara anak membangun
pengetahuan tersebut? Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak
diperoleh secara pasif oleh seseorang, akan tetapi melalui tindakan.
Perkembangan kognitif anak bahkan bergantung kepada seberapa jauh mereka aktif
memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Adaptasi terhadap
lingkungan dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi (Nur, 1998;
Poedjiadi, 1999). Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran.
Sementara akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya
informasi baru, sehingga dengan demikian informasi tersebut mempunyai tempat
(Ruseffendi, 1988). Akomodasi dapat juga diartikan sebagai proses mental yang
meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan rangsangan baru atau
memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan tersebut
(Suparno, 1996).Pandangan dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir,
yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa
pengetahuan dibangun dalam pikiran seseorang dengan kegiatan asimilasi dan
akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Dalam hal ini, belajar
merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait
bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis. Belajar
merupakan proses membangun atau mengkonstruksi pemahaman sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki seseorang (Hudoyo, 1998). Dari pengertian di atas,
dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara
interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor extern atau lingkungan sehingga melahirkan suatu perubahan tingkah laku
(Hamzah, 2003).Berbeda dengan konstruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky
menekankan bahwa, belajar dilakukan dengan interaksi terhadap lingkungan sosial
maupun fisik seseorang.
1. Teori Belajar Piaget
Piaget merupakan salah satu pioner konstruktivis, ia berpendapat
bahwa anak membangun sendiri pengetahuannya dari pengalamannya sendiri dengan
lingkungan. Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan,
perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif
memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran
guru adalah sebagai fasilitator dan buku sebagai pemberi informasi.
Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada
pendidikan yaitu 1) memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses
mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang
digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. Pengalaman - pengalaman
belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif dan
jika guru penuh perhatian terhadap Pendekatan yang digunakan siswa untuk sampai
pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi memberikan
pengalaman yang dimaksud, 2) mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif
sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget
menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi ( ready made knowledge )
anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan
dengan lingkungan, 3) memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal
kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh
dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbungan itu berlangsung
pada kecepatan berbeda. Oleh karena itu guru harus melakukan upaya untuk
mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu - individu ke
dalam bentuk kelompok - kelompok kecil siswa daripada aktivitas dalam bentuk
klasikal, 4) mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut
Piaget, pertukaran gagasan - gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan
penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung,
perkembangannya dapat disimula
Teori Psikologi
Piaget
Piaget dalam
teorinya memandang anak sebagai individu (pembelajar) yang aktif. Perhatian
utama Piaget tertuju kepada bagaimana anak-anak dapat mengambil peran dalam
lingkungannya dan bagaimana lingkungan sekitar berpengaruh pada perkembangan
mentalnya. Menurut Piaget (dalam Helena, 2004), anak senantiasa berinteraksi
dengan sekitarnya dan selalu berusaha mengatasi masalah-masalah yang
dihadapinya di lingkungan itu. Melalui kegiatan yang dimaksudkan untuk
memecahkan masalah itulah pembelajaran terjadi. Piaget tidak memberikan
penekanan terhadap pentingnya bahasa dalam perkembangan kognoitif anak. Bagi
Piaget bukan perkembangan bahasa pertama yang paling fundamental dalam
perkembangan kognitif melainkan aktivitas atau action.
Menurut psikologi Piaget, dua macam perkembangan dapat terjadi
sebagai hasil dari beraktivitas, yaitu asimilasi dan akomodasi. Suatu
perkembangan disebut asimilasi jika aktivitas terjadi tanpa menghasilkan
perubahan pada anak, sedangkan akomodasi terjadi jika anak menyesuaikan diri
terhadap hal-hal yang ada di lingkungannya. Misalnya menurut contoh Cameron
(2001), ketika anak sudah bisa menggunakan sendok dan kemudian diberi garpu dan
dia menggunakan garpu (alat makan baru) sebagaimana ia menggunakan sendok yang
berfungsi sebagai alat makan yang dikenal sebelumnya, berarti ia telah
melakukan asimilasi. Akan tetapi, ketika ia sadar bahwa dengan garpu ia
memiliki kesempatan untuk makan dengan cara menusukkan garpu ke makanan dan
bukan cuma menyendoknya. Dengan demikian, anak itu telah melakukan akomodasi.
Pada mulanya asimilasi dan akomodasi merupakan proses adaptasi
perilaku yang kemudian menjadi proses berpikir. Akomodasi merupakan konsep
penting yang kemudian dipertimbangkan dalam dunia pembelajaran bahasa yang
dikenal dengan sebutan restructuring. Istilah ini mengacu kepada
reorganisasi representasi mental dalam sebuah bahasa (McLaughlin, 1992).
Maksudnya, anak telah memiliki pola-pola bahasa dalam pikirannya, tetapi ketika
dihadapkan kepada fakta bahasa (pola) baru dan fakta baru tersebut memiliki
potensi untuk berkomunikasi dengan cara berbeda, maka anak melakukan
penyesuaian dengan pola-pola baru.
Menurut pandangan Piaget, pikiran anak berkembang perlahan-lahan
seiring dengan pertumbuhan pengetahuan dan keterampilan intelektualnya hingga
sampai ke tahap berpikir logis dan formal. Akan tetapi, pertumbuhan ditandai
dengan perubahan-perubahan mendasar tertentu yang menyebabkan anak mampu
melampaui serangkaian tahapan yang dimaksud. Pada setiap tahap, anak mampu
berpikir memikirkan hal-hal tertentu, tetapi tidak atau belum mampu memikirkan
hal-hal yang lain. Jadi, menurut Piaget, berpikir melibatkan hal-hal yang
abstrak dan menggunakan jalur logika belum mampu dilakukan anak sebelum ia
berusia 11 tahun atau lebih.
Pendapat ini banyak dikritik karena ketika diakhir tahun 70an
dan di awal tahun 80an diterapkan kebijakan bahwa anak-anak harus terlebih
dahulu melakukan srangkaian kegiatan yang menyiapkan mereka untuk menulis
kalimat yang memakan waktu lama, anak akan kehilangan kesempatan untuk
mengalami proses yang holistik atau menyeluruh. Proses holistik tersebut ialah
proses yang menyadarkan anak bahwa tujuan menulis adalah komunikasi dan bukan
berlatih menulis bentuk huruf semata. Aspek komunikasi inilah yang merupakan
aspek sosial dari kegiatan menulis, dan aspek ini yang terabaikan oleh Piaget.
Piaget lebih memperhatikan anak dalam dunianya sendiri, dan bukan anak yang
berkomunikasi dengan orang dewasa atau dengan anak lain.
Ada pendapat Piaget yang penting, yaitu anak sebagai pembelajar
dan pemikir yang aktif, yang membangun pengetahuannya dengan ‘bergulat’ dengan
benda-benda atau gagasan-gagasan. Jika kita mengambil gagasan Piaget bahwa anak
beradaptasi dengan lingkungannya, kita dapat melihat bagaimana lingkungan dapat
menjadi setting untuk perkembangan. Lingkungan menawarkan
berbagai kesempatan kepada anak untuk bertindak. Oleh karenanya, lingkungan
kelas, misalnya, dapat menjadi ajang kegiatan dan kreativitas yang menyebabkan
pembelajaran terjadi. Berdasarkan pendapat ini, pembelajaran bahasapun dapat
terjadi jika lingkungan kelas maupun sekitarnya dimanfaatkan sedemikian rupa
agar menawarkan berbagai kesempatan bagi keterlibatan dan kreativitas siswa.
Teori belajar
behavioristik adalah sebuah
teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai
hasil dari pengalaman [1].
Teori ini lalu
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran
behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan
orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu
dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku
akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang
diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan
pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang
terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena
tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus
dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh
pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk*melihat terjadi
atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang
dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan
(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka
respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan
(negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam
teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment;
(2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4)
Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The
Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh aliran
behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, danSkinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh
aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
Menurut Thorndike,
belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa
yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau
hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah
reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa
pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat
kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak
konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur
tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula
dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar
yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3)
hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana
hal-hal tertentu dapat memperkuat respon
Mengenal
Teori Belajar & Pembelajaran, yuk Mari….
OPINI |
08 November 2010 | 21:17
638
0
Nihil
Kata teori pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita
bukan?
Namun, bagaimana dengan teori belajar dan pembelajaran?
Apa aja sih macamnya?
Jika ingin lebih mengenal tentang teori-teori belajar
dan pembelajaran, yuk kita pelajari bersama….
Belajar merupakan proses bagi manusia untuk menguasai
berbagai kompetensi, ketrampilan dan sikap. Proses belajar dimulai sejak
manusia masih bayi sampai sepanjang hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar
merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya.
Kajian tentang kapasitas manusia untuk belajar, terutama tentang bagaimana
proses belajar terjadi pada manusia mempunyai sejarah panjang dan telah
menghasilkan beragam teori. Macam-macam teori belajar dan pembelajaran antara
lain:
1. Teori Behavioristik
Premis dasar teori
belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons dan
penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Teori belajar behavioristik
sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat
dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yang muncul
terhadap stimults yang bervariasi.
Salah satu teori
belajar behavioristik adalah teori classical conditioning dari Pavlov yang
didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri seseorng serta gerak
refleks setelah menerima stimulus. Menurut Pavlov, penguatan berperan penting
dalam mengkondisikan munculnya respons yang diharapkan. Jika penguatan tidak
dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka respons terkondisi akan
menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons tersebut dapat muncul
kembali.
Sementara itu,
connectionism dari Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan proses
coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin
diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak
benar akan menghilang. Akibat menyenangkan dari suatu respons akan memperkuat
kemungkinan munculnya respons. Respons yang benar diperoleh dari proses yang
berulang kali yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap.
Teori behaviorism dari
Watson menyatakan bahwa stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam
teori perilaku haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Interaksi
stimulus dan respons merupakan proses pengkondisian yang akan terjadi
berulang-ulang untuk mencapai hasil yang cukup kompleks.
2. Teori Belajar
Kognitif
Menuru teori belajar
kognitif pada dasarnya setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan
segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan
pemahamannya atas dirinya sendiri. Setiap orang memiliki kepercayaan, ide-ide
dan prinsip yang dipilih untuk kepentingan dirinya.
Teori kognitif berasal
dari teori kognitif dan teori psikologi. Aspek kognitif mempersoalkan bagaimana
seseorang memperoleh pemahaman mengenai dirinya dan lingkungannya dan bagaimana
ia berhubungan dengan lingkungan secara sadar. Sedangkan aspek psikologis
membahas masalah hubungan atau interaksi antara orang dan lingkungan
psikologisnya secara bersamaan. Psikologi kognitif menekankan pada penting
proses internal atau proses-proses mental.
Menurut teori belajar
kognitif, belajar merupakan proses-proses internal yang tidak dapat diamati
secara langsung. Adapun tujuan teori ini adalah:
a. Membentuk hubungan
yang teruji, teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruang kehidupan
mereka sendiri secara spesifik sesuai dengan situasi psikologisnya.
b. Membantu guru untuk
memahami orang lain, terutama muridnya, dan membantu dirinya sendiri.
c. Mengkonstruksi
prinsip-prinsip ilmiah yang dapat diterapkan dalam kelas dan untuk menghasilkan
prosedur xang memungkinkan belajar menjadi produktif.
d. Teori belajar
kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas diri dan
lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri dan lingkungannya merupakan faktor
yang saling berkaitan.
Insight adalah
pemahaman dasar yang dapat diaplikasikan pada beberapa situasi yang sama atau
hamper sama. Dapat juga dikatakan insight adalah pemahaman terhadap suatu
situasi secara mendalam. Insight terjadi dengan malihat kasus-kasus/kejadian
yang terpisah, kemudian manggeneralisasikannya sehingga timbul pemahaman.
Perbedaan pandangan
teori kognitif dan teori conditioning stimulus-respons adalah sebagai berikut.
a. Teori kognitif
menekankan pada fungsi-fungsi psikologis, sedangkan teori behaviorisme pada
segi fisiknya saja.
b. Teori kognitif
berfokus pada situasi saat ini, sedangkan teori behaviorisme pada sejarah masa
lalu.
c. Dalam proses
kognitif terjadi interaksi antara manusia dengan lingkungannya secara simultan
dan saling membutuhkan.
Prinsip-prinsip dasar
teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut.
a. Belajar merupakan
peristiwa mental yang berhubungan dengan berpikir, perhatian, persepsi,
pemecahan masalah, dan kesadaran.
b. Sehubungan dengan
pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa
guru harus memperhatikan perilaku siswa yang tampak, seperti penyelesaian tugas
rumah, hasil tes, disamping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan
lingkungan psikologisnya.
c. Ahli kognitif
percaya bahwa kemampuan berpikir setiap orang tidak sama dan tidak tetap dari
waktu ke waktu.
Model teori belajar
kognitif yang banyak diterapkan dalam dunia pendidikan adalah model belajar
penemuan dari Brunner, model belajar bermakna dari Ausebel, model pemrosesan
informasi dan model peristiwa pembelajaran dari Rober Gagne, dan model
“perkembangan intelektual” dari Jean Piaget.
3. Teori Belajar
Konstruktivisme
Constructivism
merupakan teori dari Piaget. Menurut cara pandang teori ini bahwa belajar
adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari
lapangan. Artinya siswa akan cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu
dibangun atas dasar realitas yang ada di dalam masyarakat.
Konsekuensinya
pembelajaran harus mampu memberikan pengalaman nyata bagi siswa. Sehingga model
pembelajarannya dilakukan secara natural. Penekanan teori ini bukan pada
membangun kualitas kognitif, tetapi lebih pada proses untuk menemukan teori
yang dibangun dari realitas lapangan.
4. Teori Belajar
Humanistik
Menurut teori
humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan
memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih
menekankan bagaimana memahami persoalan manusia dari berbagai dimensi yang
dimiliki, baik dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik.
Teori belajar ini
lebih banyakberbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia
yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling
ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada pengertian belajar dalam
bentuknya yang paling ideal daripada pemahaman tentang proses belajar
sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar
lainnya.
Teori humanistik
berpendapat bahwa teori belajar apapun, sarana prasarana apapun dapat
dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai
kesempurnaan hidup bagi manusia dengan indikasi (a) kemampuan aktualisasi diri,
(b) kualitas pemahaman diri serta (c) kemampuan merealisasikan diri dalam
kehidupan yang nyata.
Berdasarkan asumsi
tersebut, maka dapat dikatakan bahwa teori humanistic bersifat sangat eklektik.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa setiap pendirian atau pendekatan belajar
tertentu, akan ada kebaikan dan ada pula kelemahannya. Dalam arti ini
eklektisisme bukanlah suatu sistem dengan membiarkan unsure-unsur tersebut
dalam keadaan sebagaimana adanya. Teori humanistik akan memanfaatkan
teori-teori apapun asal tujuannya tercapai, yaitu memanusiakan manusia.
Jadi teori belajar itu
ada bermacam-macam. Diantaranya seperti yang telah dijelaskan diatas.
Masing-masing dari teori tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan. Tetapi
semua teori tersebut tentunya juga memiliki manfaat bila diterapkan dalam
pembelajaran.
0
Tambahkan komentar
Teori -Teori Belajar
(Piaget, Bruner, Vygotsky)
Pada prinsipnya proses
belajar yang dialami manusia berlangsung sepanjang hayat, artinya belajar
adalah proses yang terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan terbatas pada
dinding kelas. Hal ini didasari pada asumsi bahwa di sepanjang
kehidupannya, manusia akan selalu dihadapkan pada masalah-masalah,
rintangan-rintangan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan
ini. Prinsip belajar sepanjang hayat ini sejalan dengan empat pilar pendidikan
universal seperti yang dirumuskan UNESCO, yaitu: (1) learning to know,
yang berarti jugalearning to learn; (2) learning to do;
(3) learning to be, dan (4) learning to live together.
Learning to know atau learning to learn mengandung
pengertian bahwa belajar itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada
produk atau hasil belajar, akan tetapi juga harus berorientasi kepada proses
belajar. Dengan proses belajar, siswa bukan hanya sadar akan apa yang harus
dipelajari, akan tetapi juga memiliki kesadaran dan kemampuan bagaimana cara
mempelajari yang harus dipelajari itu.
Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar itu
bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan,
tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang
sangat diperlukan dalam era persaingan global.
Learning to be mengandung pengertian bahwa belajar
adalah membentuk manusia yang “menjadi dirinya sendiri”. Dengan kata lain,
belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan
kepribadian yang memiliki tanggung jawab sebagai manusia.
Learning to live
together adalah belajar
untuk bekerjasama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan tuntunan kebutuhan
dalam masyarakat global dimana manusia baik secara individual maupun secara
kelompok tak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama
kelompoknya.
Proses pembelajaran
yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus
memperhatikan teori-teori yang melandasinya. Ada beberapa teori belajar yang
mendukung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri diantaranya:
1.
Teori Piaget
Menurut Piaget
perkembangan kognitif pada anak secara garis besar terbagi empat periode yaitu:
a) periode sensori motor ( 0 – 2 tahun); b) periode praoperasional (2-7 tahun);
c)periode operasional konkrit (7-11 tahun); d) periode operasi formal (11-15)
tahun. Sedangkan konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual
menurut Piaget yaitu: skemata (dipandang sebagai sekumpulan konsep); asimilasi
(peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang telah dimiliki
seseorang; akomodasi (terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang
semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi
lama); dan equilibrium (bila keseimbangan tercapai maka siswa mengenal
informasi baru).
1.
Teori Bruner
Teori belajar Bruner
hampir serupa dengan teori Piaget, Bruner mengemukakan bahwa perkembangan
intelektual anak mengikuti tiga tahap representasi yang berurutan, yaitu: a)
enaktif, segala perhatian anak tergantung pada responnya; b) ikonik, pola
berpikir anak tergantung pada organisasi sensoriknya dan c) simbolik, anak
telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal sehingga anak telah
mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.
Implikasi teori Bruner
dalam proses pembelajaran adalah menghadapkan anak pada suatu situasi yang
membingungkan atau suatu masalah.Dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan
atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk
mencapai keseimbangan di dalam benaknya.
1.
Teori Vygotsky
Teori Vygotsky
beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar
menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada
dalam jangkauan kemampuannya (zone of proximal development), yaitu
perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya.
Vygotsky juga menjelaskan bahwa proses belajar terjadi pada dua tahap: tahap
pertama terjadi pada saat berkolaborasi dengan orang lain, dan tahap berikutnya
dilakukan secara individual yang di dalamnya terjadi proses internalisasi.
Selama proses interaksi terjadi, baik antara guru-siswa maupun antar siswa, kemampuan
seperti saling menghargai, menguji kebenaran pernyataan pihak lain,
bernegosiasi, dan saling mengadopsi pendapat dapat berkembang.
Teori belajar atau teori perkembangan mental Piaget biasa juga
disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori
belajar yang dikemukakan oleh Piaget tersebut berkenaan dengan kesiapan anak
untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir
hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual tersebut dilengkapi dengan
ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi pengetahuan. Misalnya pada tahap
sensori motor anak berpikir melalui gerak atau perbuatan (Ruseffendi, 1988).
Dalam kaitannya dengan teori belajar konstruktivisme, Piaget yang dikenal
sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989) menegaskan bahwa pengetahuan
dibangun dalam pikiran anak. Selanjutnya, timbul pertanyaan bagaimanakah cara
anak membangun pengetahuan tersebut? Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa
pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, akan tetapi melalui
tindakan. Perkembangan kognitif anak bahkan bergantung kepada seberapa jauh
mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Adaptasi
terhadap lingkungan dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi (Nur,
1998; Poedjiadi, 1999). Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam
pikiran. Sementara akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena
adanya informasi baru, sehingga dengan demikian informasi tersebut mempunyai
tempat (Ruseffendi, 1988). Akomodasi dapat juga diartikan sebagai proses mental
yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan rangsangan baru atau
memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan tersebut
(Suparno, 1996).Pandangan dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir,
yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa
pengetahuan dibangun dalam pikiran seseorang dengan kegiatan asimilasi dan
akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Dalam hal ini, belajar
merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait
bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis. Belajar
merupakan proses membangun atau mengkonstruksi pemahaman sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki seseorang (Hudoyo, 1998). Dari pengertian di atas,
dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara
interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor extern atau lingkungan sehingga melahirkan suatu
perubahan tingkah laku (Hamzah, 2003).Berbeda dengan konstruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan
oleh Vigotsky menekankan bahwa, belajar dilakukan dengan interaksi terhadap
lingkungan sosial maupun fisik seseorang.
1. Teori Belajar Piaget
Piaget merupakan salah satu pioner konstruktivis, ia berpendapat
bahwa anak membangun sendiri pengetahuannya dari pengalamannya sendiri dengan
lingkungan. Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan,
perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif
memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran
guru adalah sebagai fasilitator dan buku sebagai pemberi informasi.
Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada
pendidikan yaitu 1) memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses
mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang
digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. Pengalaman - pengalaman
belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif dan
jika guru penuh perhatian terhadap Pendekatan yang digunakan siswa untuk sampai
pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan guru berada dalam posisi
memberikan pengalaman yang dimaksud, 2) mengutamakan peran siswa dalam
berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam
kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi ( ready made
knowledge ) anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui
interaksi spontan dengan lingjungan, 3) memaklumi akan adanya perbedaan
individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa
seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun
pertumbungan itu berlangsung pada kecepatan berbeda. Oleh karena itu guru harus
melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari
individu - individu ke dalam bentuk kelompok - kelompok kecil siswa daripada
aktivitas dalam bentuk klasikal, 4) mengutamakan peran siswa untuk saling
berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan - gagasan tidak dapat
dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat
diajarkan secara langsung, perkembangannya dapat disimula
Teori Psikologi
Piaget
Piaget dalam
teorinya memandang anak sebagai individu (pembelajar) yang aktif. Perhatian
utama Piaget tertuju kepada bagaimana anak-anak dapat mengambil peran dalam
lingkungannya dan bagaimana lingkungan sekitar berpengaruh pada perkembangan
mentalnya. Menurut Piaget (dalam Helena, 2004), anak senantiasa berinteraksi
dengan sekitarnya dan selalu berusaha mengatasi masalah-masalah yang
dihadapinya di lingkungan itu. Melalui kegiatan yang dimaksudkan untuk
memecahkan masalah itulah pembelajaran terjadi. Piaget tidak memberikan
penekanan terhadap pentingnya bahasa dalam perkembangan kognoitif anak. Bagi
Piaget bukan perkembangan bahasa pertama yang paling fundamental dalam
perkembangan kognitif melainkan aktivitas atau action.
Menurut psikologi Piaget, dua macam perkembangan dapat terjadi
sebagai hasil dari beraktivitas, yaitu asimilasi dan akomodasi. Suatu
perkembangan disebut asimilasi jika aktivitas terjadi tanpa menghasilkan
perubahan pada anak, sedangkan akomodasi terjadi jika anak menyesuaikan diri
terhadap hal-hal yang ada di lingkungannya. Misalnya menurut contoh Cameron
(2001), ketika anak sudah bisa menggunakan sendok dan kemudian diberi garpu dan
dia menggunakan garpu (alat makan baru) sebagaimana ia menggunakan sendok yang
berfungsi sebagai alat makan yang dikenal sebelumnya, berarti ia telah
melakukan asimilasi. Akan tetapi, ketika ia sadar bahwa dengan garpu ia
memiliki kesempatan untuk makan dengan cara menusukkan garpu ke makanan dan
bukan cuma menyendoknya. Dengan demikian, anak itu telah melakukan akomodasi.
Pada mulanya asimilasi dan akomodasi merupakan proses adaptasi
perilaku yang kemudian menjadi proses berpikir. Akomodasi merupakan konsep
penting yang kemudian dipertimbangkan dalam dunia pembelajaran bahasa yang
dikenal dengan sebutan restructuring. Istilah ini mengacu kepada
reorganisasi representasi mental dalam sebuah bahasa (McLaughlin, 1992).
Maksudnya, anak telah memiliki pola-pola bahasa dalam pikirannya, tetapi ketika
dihadapkan kepada fakta bahasa (pola) baru dan fakta baru tersebut memiliki
potensi untuk berkomunikasi dengan cara berbeda, maka anak melakukan
penyesuaian dengan pola-pola baru.
Menurut pandangan Piaget, pikiran anak berkembang perlahan-lahan
seiring dengan pertumbuhan pengetahuan dan keterampilan intelektualnya hingga
sampai ke tahap berpikir logis dan formal. Akan tetapi, pertumbuhan ditandai
dengan perubahan-perubahan mendasar tertentu yang menyebabkan anak mampu
melampaui serangkaian tahapan yang dimaksud. Pada setiap tahap, anak mampu
berpikir memikirkan hal-hal tertentu, tetapi tidak atau belum mampu memikirkan
hal-hal yang lain. Jadi, menurut Piaget, berpikir melibatkan hal-hal yang
abstrak dan menggunakan jalur logika belum mampu dilakukan anak sebelum ia
berusia 11 tahun atau lebih.
Pendapat ini banyak dikritik karena ketika diakhir tahun 70an
dan di awal tahun 80an diterapkan kebijakan bahwa anak-anak harus terlebih
dahulu melakukan srangkaian kegiatan yang menyiapkan mereka untuk menulis
kalimat yang memakan waktu lama, anak akan kehilangan kesempatan untuk
mengalami proses yang holistik atau menyeluruh. Proses holistik tersebut ialah
proses yang menyadarkan anak bahwa tujuan menulis adalah komunikasi dan bukan
berlatih menulis bentuk huruf semata. Aspek komunikasi inilah yang merupakan
aspek sosial dari kegiatan menulis, dan aspek ini yang terabaikan oleh Piaget.
Piaget lebih memperhatikan anak dalam dunianya sendiri, dan bukan anak yang
berkomunikasi dengan orang dewasa atau dengan anak lain.
Ada pendapat Piaget yang penting, yaitu anak sebagai pembelajar
dan pemikir yang aktif, yang membangun pengetahuannya dengan ‘bergulat’ dengan
benda-benda atau gagasan-gagasan. Jika kita mengambil gagasan Piaget bahwa anak
beradaptasi dengan lingkungannya, kita dapat melihat bagaimana lingkungan dapat
menjadi setting untuk perkembangan. Lingkungan menawarkan
berbagai kesempatan kepada anak untuk bertindak. Oleh karenanya, lingkungan
kelas, misalnya, dapat menjadi ajang kegiatan dan kreativitas yang menyebabkan
pembelajaran terjadi. Berdasarkan pendapat ini, pembelajaran bahasapun dapat
terjadi jika lingkungan kelas maupun sekitarnya dimanfaatkan sedemikian rupa
agar menawarkan berbagai kesempatan bagi keterlibatan dan kreativitas siswa.
Teori belajar
behavioristik adalah sebuah
teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai
hasil dari pengalaman [1].
Teori ini lalu berkembang
menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan
teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran
behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan
orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu
dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku
akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang
diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan
pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang
terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena
tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus
dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh
pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi
atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang
dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan
(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka
respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan
(negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam
teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment;
(2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4)
Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The
Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh aliran
behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh
aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
Menurut Thorndike,
belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa
yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau
hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah
reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa
pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat
kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak
konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur
tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula
dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar
yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3)
hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana
hal-hal tertentu dapat memperkuat respon
Mengenal
Teori Belajar & Pembelajaran, yuk Mari….
OPINI |
08 November 2010 | 21:17
638
0
Nihil
Kata teori pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita
bukan?
Namun, bagaimana dengan teori belajar dan pembelajaran?
Apa aja sih macamnya?
Jika ingin lebih mengenal tentang teori-teori belajar
dan pembelajaran, yuk kita pelajari bersama….
Belajar merupakan proses bagi manusia untuk menguasai
berbagai kompetensi, ketrampilan dan sikap. Proses belajar dimulai sejak
manusia masih bayi sampai sepanjang hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar
merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dari makhluk hidup
lainnya. Kajian tentang kapasitas manusia untuk belajar, terutama tentang
bagaimana proses belajar terjadi pada manusia mempunyai sejarah panjang dan
telah menghasilkan beragam teori. Macam-macam teori belajar dan pembelajaran
antara lain:
1. Teori Behavioristik
Premis dasar teori
belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons dan
penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Teori belajar behavioristik
sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat
dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yang muncul
terhadap stimulus yang bervariasi.
Salah satu teori
belajar behavioristik adalah teori classical conditioning dari Pavlov yang
didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri seseorng serta gerak
refleks setelah menerima stimulus. Menurut Pavlov, penguatan berperan penting
dalam mengkondisikan munculnya respons yang diharapkan. Jika penguatan tidak
dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka respons terkondisi
akan menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons tersebut dapat
muncul kembali.
Sementara itu,
connectionism dari Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan proses
coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin
diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak
benar akan menghilang. Akibat menyenangkan dari suatu respons akan memperkuat kemungkinan
munculnya respons. Respons yang benar diperoleh dari proses yang berulang kali
yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap.
Teori behaviorism dari
Watson menyatakan bahwa stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam
teori perilaku haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Interaksi
stimulus dan respons merupakan proses pengkondisian yang akan terjadi
berulang-ulang untuk mencapai hasil yang cukup kompleks.
2. Teori Belajar
Kognitif
Menuru teori belajar
kognitif pada dasarnya setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan
segala sesuatu senantiasa dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan
pemahamannya atas dirinya sendiri. Setiap orang memiliki kepercayaan, ide-ide
dan prinsip yang dipilih untuk kepentingan dirinya.
Teori kognitif berasal
dari teori kognitif dan teori psikologi. Aspek kognitif mempersoalkan bagaimana
seseorang memperoleh pemahaman mengenai dirinya dan lingkungannya dan bagaimana
ia berhubungan dengan lingkungan secara sadar. Sedangkan aspek psikologis
membahas masalah hubungan atau interaksi antara orang dan lingkungan
psikologisnya secara bersamaan. Psikologi kognitif menekankan pada penting
proses internal atau proses-proses mental.
Menurut teori belajar
kognitif, belajar merupakan proses-proses internal yang tidak dapat diamati
secara langsung. Adapun tujuan teori ini adalah:
a. Membentuk hubungan
yang teruji, teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruang kehidupan
mereka sendiri secara spesifik sesuai dengan situasi psikologisnya.
b. Membantu guru untuk
memahami orang lain, terutama muridnya, dan membantu dirinya sendiri.
c. Mengkonstruksi
prinsip-prinsip ilmiah yang dapat diterapkan dalam kelas dan untuk menghasilkan
prosedur yang memungkinkan belajar menjadi produktif.
d. Teori belajar
kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas diri dan
lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri dan lingkungannya merupakan faktor
yang saling berkaitan.
Insight adalah
pemahaman dasar yang dapat diaplikasikan pada beberapa situasi yang sama atau
hamper sama. Dapat juga dikatakan insight adalah pemahaman terhadap suatu
situasi secara mendalam. Insight terjadi dengan malihat kasus-kasus/kejadian
yang terpisah, kemudian manggeneralisasikannya sehingga timbul pemahaman.
Perbedaan pandangan
teori kognitif dan teori conditioning stimulus-respons adalah sebagai berikut.
a. Teori kognitif
menekankan pada fungsi-fungsi psikologis, sedangkan teori behaviorisme pada
segi fisiknya saja.
b. Teori kognitif
berfokus pada situasi saat ini, sedangkan teori behaviorisme pada sejarah masa
lalu.
c. Dalam proses
kognitif terjadi interaksi antara manusia dengan lingkungannya secara simultan
dan saling membutuhkan.
Prinsip-prinsip dasar
teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut.
a. Belajar merupakan
peristiwa mental yang berhubungan dengan berpikir, perhatian, persepsi,
pemecahan masalah, dan kesadaran.
b. Sehubungan dengan
pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa
guru harus memperhatikan perilaku siswa yang tampak, seperti penyelesaian tugas
rumah, hasil tes, disamping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan
lingkungan psikologisnya.
c. Ahli kognitif
percaya bahwa kemampuan berpikir setiap orang tidak sama dan tidak tetap dari
waktu ke waktu.
Model teori belajar
kognitif yang banyak diterapkan dalam dunia pendidikan adalah model belajar
penemuan dari Brunner, model belajar bermakna dari Ausebel, model pemrosesan
informasi dan model peristiwa pembelajaran dari Rober Gagne, dan model
“perkembangan intelektual” dari Jean Piaget.
3. Teori Belajar
Konstruktivisme
Constructivism
merupakan teori dari Piaget. Menurut cara pandang teori ini bahwa belajar
adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari
lapangan. Artinya siswa akan cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu
dibangun atas dasar realitas yang ada di dalam masyarakat.
Konsekuensinya
pembelajaran harus mampu memberikan pengalaman nyata bagi siswa. Sehingga model
pembelajarannya dilakukan secara natural. Penekanan teori ini bukan pada
membangun kualitas kognitif, tetapi lebih pada proses untuk menemukan teori
yang dibangun dari realitas lapangan.
4. Teori Belajar
Humanistik
Menurut teori
humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan
memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih
menekankan bagaimana memahami persoalan manusia dari berbagai dimensi yang
dimiliki, baik dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik.
Teori belajar ini
lebih banyakberbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia
yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling
ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada pengertian belajar dalam
bentuknya yang paling ideal daripada pemahaman tentang proses belajar
sebagaimana apa adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar
lainnya.
Teori humanistik
berpendapat bahwa teori belajar apapun, sarana prasarana apapun dapat
dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai kesempurnaan
hidup bagi manusia dengan indikasi (a) kemampuan aktualisasi diri, (b) kualitas
pemahaman diri serta (c) kemampuan merealisasikan diri dalam kehidupan yang
nyata.
Berdasarkan asumsi
tersebut, maka dapat dikatakan bahwa teori humanistic bersifat sangat eklektik.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa setiap pendirian atau pendekatan belajar
tertentu, akan ada kebaikan dan ada pula kelemahannya. Dalam arti ini
eklektisisme bukanlah suatu sistem dengan membiarkan unsure-unsur tersebut
dalam keadaan sebagaimana adanya. Teori humanistik akan memanfaatkan
teori-teori apapun asal tujuannya tercapai, yaitu memanusiakan manusia.
Jadi teori belajar itu
ada bermacam-macam. Diantaranya seperti yang telah dijelaskan diatas.
Masing-masing dari teori tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan. Tetapi
semua teori tersebut tentunya juga memiliki manfaat bila diterapkan dalam
pembelajaran.
0
Tambahkan komentar
Membaca merupakan salah
satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hidup di dunia ini, cuma
manusia yang dapat membaca. Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam
hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan
membaca.
Pada dasarnya anak kecil menyenangi belajar
bahkan merupakan suatu kenikmatan dan kegembiraan tersendiri, maka kita perlu
mengajak anak kecil membaca. Saat kesempatan belajar membaca itu diberikan,
anak memberikan hasil “sangat baik” bahkan “menakjubkan”, dan akan menghasilkan
anak-anak yang bahagia, mudah menyesuaikan diri dan punya tingkat intelegensi
yang tinggi.
|
Taman Kanak-Kanak (TK)
sebagai lembaga pendidikan prasekolah mempunyai peran yang penting dalam
memberikan stimulasi/ rangsangan dalam membaca permulaan (pra membaca) untuk
menumbuhkan minat membaca anak TK. Yang pembelajarannya harus disesuaikan
dengan kurikulum TK dan metode pembelajaran bermain sambil belajar.
Bermain sambil belajar merupakan slogan yang harus dimaknai sebagai satu
kesatuan, yakni belajar yang dilakukan anak melalui bermain.
Aktivitas-aktivitas anak lebih ditekankan pada ciri-ciri bermain. Porsi bermain
tampak lebih menonjol daripada belajar. Melalui bermain itulah anak memperoleh
berbagai kemampuan seperti, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berbahasa,
kemampuan bersosialisasi. Kemampuan memanajemen emosi dan kemampuan berpikir
logis matematis.
Menurut Solehuddin (2000) dalam Musfiroh
(2008:29), bermain
adalah dunia sekaligus sarana belajar anak. Memberikan kesempatan kepada anak
untuk bermain berarti memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar.
Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dengan cara-cara yang dapat
dikategorikan sebagai bermain berarti telah berusaha membuat pengalaman belajar
itu dirasakan dan dipersepsikan secara alami oleh anak yang bersangkutan
sehingga menjadi bermakna baginya.
Slogan bermain sambil
belajar sangat sesuai dengan karakteristik kurikulum untuk anak usia dini,
terutama kurikulum untuk anak TK. Bermain, disebutkan dalam kurikulum merupakan
pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak usia dini.
Upaya-upaya pendidikan yang diberikan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam
situasi yang menyenangkan dan menggunakan strategi metode, materi/bahan, media
yang menarik serta mudah diikuti anak. Melalui bermain anak diajak untuk
bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengannya,
sehingga pembelajaran menjadi bermakna (Puskur Balitbang,2002) dalam Musfiroh
(2008:29).
Karena itulah pengajaran
membaca TK harus dilakukan dengan metode bermain, sehingga anak merasa senang,
tertarik dan berminat untuk belajar membaca. Anak tidak merasa terpaksa untuk
belajar yang akhirnya akan muncul suatu kebosanan dan tidak tertarik lagi
dengan kegiatan membaca.
Mengingat betapa pentingnya pengajaran
pramembaca di TK, maka pengajaran membaca perlu ditingkatkan dengan metode yang
sesuai dengan TK. Guru harus menguasai berbagai metode pengajaran pramembaca
yang mudah, menarik dan menyenangkan sehingga anak-anak senang membaca.

0 komentar:
Post a Comment